Senin, 28 Maret 2011

Tugas paper Pengelantangan

Maksud dari pengelantangan adalah untuk menghilangkan kotoran-kotoran organik yang terwujud sebagai pigmen-pigmen warna alami. Pigmen-pigmen wama alami ini tidak bisa hilang hanya dengan proses pemasakan saja, tetapi harus dangan proses pengelantangan.

Pengelantangan dapat berlangsung karena senyawa-senyawa organik yang mempunyai ikatan rangkap dioksidasi menjadi ikatan tunggal sehingga bahan tekstil tersebut menjadi putih. Proses pengelantangan yang dilakukan pada salulosa umumnya menggunakan zat oksidator sebagai zat pengelantang.

Zat pengelantang yang bersifat oksidator dibagi menjadi 2 golongan :

- Mengandung khlor : natrium hipokhlorit, natrium khlorit dan kaporit.

- Tanpa khlor : hidrogen peroksida, natrium peroksida, natrium borak, kalium

permanganat, kalium promat.

1. Zat pengelantang yang mengandung khlor

- Natrium Hipokhlorit (NaOCl)

Natrium Hipokhlorit adalah zat pangalantang yang mempunyai daya oksidasi yang tertinggi dibandingkan dengan zat-zat pengalantang lain, dengan potansial redoks antara 1400-1550 mV. Sodium Hipokhlorit umumnya mengandung 15 - 18% khlor tersedia yang sangat alkalis. zat ini relatif murah dan dalam penggunaannya dapat dikombinasikan dengan zat pengelantang lain dan juga dapat digunakan pada proses gabungan (kontinyu) dengan pemasakan pada suhu tinggi dengan tekanan (ketel kier). Kekurangan atau kerugian penggunaan zat ini ialah sifatnya yang kurang stabil, dalam penyimpanan mudah terdekonposisi (tereduksi) cenderung mengaluarkan khlor sebagai akibat dan potensial redoksnya.

Mekanismereaksi hipokhloret adalah sebagai berikut :

NaOCl + H2O NaOH + HOCl (1) hidrolisa

HOCI HCl +. (O) (2) pelapasan zat

NaOCl + HC1 NaCl + HOCl (3) Pembentukan HOCL

HOCI + HCl H2O + C12 (4) Pembentukan khlor bebas

Natrium hipokhlorit dalam air akan terhidreolisa, kesetimbangan terjadi pada pH 11-11,5. Asam hipokhlorlt (HOCl) dapat terbentuk salama proses hidrolisa. Asam ini tidak stabil dan mudah terurai sehingga terjadi pelepasan atom oksigen (pers 2). Walaupun konsentrasi NaOC1 tidak terlalu tingge, selama HOCl yang dibutuhkan tersedia maka cukup untuk proses pengelantangan.

Apabila kemudian ditambahkan alkali atau NaOH pada larutan hidrolisa, persamaan reaksi akan berjalan ke kiri, konsantrasi HOCl akan berkurang dan larut menjadi labih stabil. Penambahan asam akan mengakibatkan reaksi barjalan ke akan, konsentrasi HOCl akan bertambah (pers 3) nilai pH yang berpengaruh pada pembentukan HOCl adalah antara 5-6. Pada pH tersebut konsaentrasi HOCl yang terbentuk adalah yang paling tinggi, sehingga kemungkinan tarjadinya kerusakan serat yang tinggi pula. Bila kemudian asam dltambahkan, konsentrasi HOCl akan turun kembali, terdekomposilsi pada akhirnya membentuk khlor bebas. Gambar di bawah ini menunjukkan pengaruh pH terhadap konsentrasi NaOCl.

Pada pengerjaannya, NaOCl banyak digunakan baik pada pengelantangan secara bak maupun kontinyu. Salama terdapat penambahan suhu, akan menyebabkan aksi oksidator berjalan dengan cepat dan proses pengelantangan atau penghilangan kotoran akan bertambah.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Pengelantangan pada kondisi suhu kamar dapat juga dilakukan dengan menggunakan bak atau J Box tanpa pemanasan.

Pada sistem kontinyu bahan dikerjakan (dibenam peras) dengan larutan pengelantang dan didiamkan salama waktu tertentu bergantung dari khlor aktif yang digunakan. Penggunaan 2 J Box secara bersama dapat juga dilakukan (Tandem).

Tabel 4 Waktu dan Suhu Pengelantangan

Waktu penyimpanan (min)7-2030-60Khlor tersedia (g/l)

pH

Zat Pembasah

5 - 8

10.5 - 11

0.5 - 1

3 – 5

10.5 - 11

0.5 - 1







Pada proses pengelantangan konsentrasi Hipokhlorit harus sesuai / cukup untuk bahan sehingga jumlah khlor yang tersisa setelah proses sesedikit mungkin dan dapat dihilangkan dengan pencucian. Sisa khlor akan mengganggu pada proses-proses selanjutnya.

Sisa khlor atau residunya dapat dihilangkan dengan menambahkan zat anti khlor pada proses pengelantangannya seperti Natrium Tio Sulfat atau natrium bisulfit. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Na HSO3 + Cl2 + H2O Na HSO4 + 2 HCl

Na2S2O4+ 3Cl2 + 4H2O 2 Na HSO4 + 6 HCl

Seperti telah diketahui bahwa pH memegang peranan penting dalam proses pengelantangan ini, pH yang diperlukan pada proses ini adalah lebih dari 8. Untuk menjaga pH tetap dapat ditambahkan larutan buffer. Untuk ini biasa digunakan Na2CO3. Keburukan penambahan Na2CO3 dapat mengakibatkan pengendapan pada bahan sehingga bahan mempunyai pegangan yang kasar. Oleh karena itu setelah proses pengelantangan bahan dikerjakan terlebih dahulu dalam larutan asam untuk penetralan kemudian dicuci dengan air sampai bersih dan dikeringkan.

Tabel 5 Penggunaan Buffer berdasarkan pH Zat pengelantang


BufferBubuk Kelantang :

pH 7.5 – 8.5

6.8 – 7.3

Natrium Hypokhlorit

pH 11

10 – 11

10

8.6

8 – 8.5

9 – 10

7 - 8

8 -10 g/l natrium sesquikarbonat

3 – 7.5 g/l natrium bikarbonat

1 -1.5 g/l Kapur

5 – 10 g/l natrium karbinat

5 g/l natrium sesquikarbonat

10 g/l natrium bikarbonat

5 g/l asam borat

3 g/l natrium borat

10 – 15 g/l calgon





Contoh Resep berdasarkan alat yang digunakan

AlatAir CirculationJigHaspelVlot

Sandopan DLF (g/l)

Khlor tersedia (g/l)

Soda Kostik (pH)

6:1 – 15:1

1

1 – 2

10.5

2:1 – 5:1

2

2 – 4

10.5

6:1 – 20:1

1

1 – 2

10.5









Resep penggunaan Natrium hipokhlorit

- NaOC1 : 2 -3 g/l Khlor aktif

Na2CO3 : 5 g/1

Pembasah : 1 ml/l

Waktu : 60 menit

Suhu kamar

Setelah proses pengelantangan dengan natrium hipokhlorit dilakukan proses anti khlor untuk menghilangkan sisa khlor yang masih menempel pada bahan.

Contoh resep untuk anti khlor

Resep : Sodium Bisulfit 2 - 4 g/l

Asam asetat : pH 4

Waktu/Suhu : 20 · 90oC


-Natrium khlorit (Na OCl2)

Natrium khlorit adalah jenis zat pengelantang yang pada proses pengelantangannya hanya berhubungan dengan zat warna alam dan zat-zat lain yang bukan selulosa. Zat ini terutama digunakan untuk bahan-banan yang agak sensitif tarhadap oksidator, seperti rayon viscosa dan linen. Zat ini juga balk untuk serat-serat sintetis tetapi tidak untuk serat akrilat.

Pada penggunaannya terhadap serat poliester dapat memberikan penambahan derajat putih. Seperti zat-zat pengelantang lain Natrium khlorit ini sifatnya bergantung pada pH petensial redoksnya antara 1040 - 1200 mV.

Mekanisma reaksi NaOCl2 adalah sebagai berikut :

NaClO2 + H20 Na OH + HClO2 (1)

HC1O 2 HCI + 2 (O) (2)

NaClO2 + HCl Na Cl + HCl (3)

5 HClO2 4 ClO2 + HCl+ 2 H2 (4)

3 HClO2 2 HClO3 + HCl (5)

Bila natrium khlorit dilarutkan dalam air, akan tarjadi hidrolisa (pers 1) larutan menjadi alkali pH antara 8.5 - 9. Asam khlorit yang terbentuk selama hidrolisa akan mengeluarkan atom hidrogen yang aktif (pers 2). Adanya penambahan asam dalam reaksi kesetimpangan akan bergerak ke kanan (pers 3), sehingga terdapat pertambahan konsentrasi HClO2 pertambahan konsentrasi ini akan membuat kerja pengelantangan meniadi intensif. Sebaliknya bila terdapat soda kostik, atau penambahan soda kostik, maka kesetimbangan bergerak ke kanan konsentrasi HClO2 akan turun dan juga aksi pengelantangannya. Proses pengelantangan tidak dapat berlangsung pada pH 8.9 - 9. Tingkat konsentrasi maksimum yang diparoleh untuk HClO2 dapat dicapai pada pH 2.5 - 3.

Pada pH yang rendah dengan adanya penambahan asam, HClO2 akan mengeluarkan ClO2 (Khlor dioksida) yang merupakan oksidator kuat. (pers 4 & 5). Gas ClO2 ini berbahaya karena mudah maladak. Tdrjadinya gas ClO2 ini harus dicegah dengan cara menambahkan aktivator atau stabiliser. Karena sifat-sifatnya NaClO2 labih banyak digunalan untuk serat/kain campuran.


Contoh Resep penggunaan natrium Khlorit

Resep 1 :

Natrium khlorit 30 g/1

Aktivator 5 g/l

Bleaching auxiliary HV 2 g/l

Leonil UN 3 g/l

Waktu 3 jam

Suhu 100°C

Resep 2 :

Natrium khilorit 80 % 15 - 20 g/l

Sandopan DLP 2 - 3 g/l

Monosodiumposphat 7 g/1

Disodium posphat 4 g/l

pH 6.5

- Kaporit (CaOCl2)

Kaporit atau serbuk kelantang merupakan oksidator kuat dan umumnya digunakan untuk pemutihan kapas. Kaporit diperdagangkandengan kandungan kira-kira 30- 60% Cl aktif.

Reaksinya adalah sebagai berikut :

2 CaOCl2 Ca (OCl)2 + CaCl2

Ca(OCl)2 + H20 Ca(OH) + 2HOCl (hidrolisa)

CaCl2 + Ca(OCl)2 + H2O Ca(OH)2 + Cl2

HOCl HCI + On (Asam hipokhlorit sebagai zat pemutih)

Ca (OH)2 + CO2 Ca CO2+ H2O

Kerusakan serat karena oksiselulosa dapat dihindarkan dengan cara memperlambat reaksi terjadinya HOCl, yaitu dengan menambahkan natrium karbonat sehingga suasana menjadi alkali.

Selama proses pengelantangan, kaporit juga mengeluarkan gas khlor yang sebagian terserap dalam bahan. Adanya gas khlor ini dapat mengakibatkan kerusakan serat sehingga kekuatan menjadi turun. Untuk menghindarkannya diperlukan proses anti khlor dengan natrium sulfit, natrium bisulit atau natrium hidrusulfit untuk mengikuti khlor yang mungkin ada pada bahan.

NaHSO3 + Cl2 + H2O NaHSO4 + 2 HCl

Na2S2O4 + 3 Cl2 + 4 H2O 2 NaHSO4 + 6 HCl

Contoh Resep

- Pemutihan

Kaporit : 2-3 g/l CI aktif K

Na2CO3 : 7 g/l (pH 11)

Pembasahan : 1 ml/l

Suhu kamar

Waktu 60 menit

- Pengasaman

HCl 200 Be : 3 ml/l

Suhu kamar

Waktu : 15 menit

- Proses anti khlor

NaHSO3 : 3 g/l

Suhu : 50oC

Waktu : 15 menit

2. Zat Pengelantangan yang Tidak Mengandung Khlor

Zat pengelantang oksidator yang tidak mengandung khlor seperti NaBO3, lKMnO4, Na2O2 dan K2Cr2O7 jarang digunakan sebagai zat pengelantang secara sendiri-sendiri, dalam pemakaiannya lebih banyak digabungkan dangan zat pengelantang lain.

Zat pengelantang reduktor dapat juga digunakan dalam proses pengelantangan seperti sulfur oksida, natrium sulfit atau natrium bisulfit jarang digunakan untuk serat selulosa dan lebih banyak digunakan pada serat-serat protein.

- Hidrogen peroksida (H2O2)

Hidrogen peroksida adalah zat pengelantang yang mempunyai potensial redoks yang rendah (810-840 mV) oleh karena itu paling banyak digunakan karena mudah pemakaiannya dan cocok atau baik untuk proses dingin maupun panas, dalam waktu singkat ataupun lama. Seperti halnya zat oksidator lain, hidrogen peroksida juga sangat bergantung pada pH. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :

H2O2 H2O + On + x kkal (1) penguraian langsung

H2O2 H+ + HO2 (2) Disasosiasi dalam air

HO2 OH- + (O)n (3) pelepasan zat pengelantang

NaHO2 Na+ + HO2 (4) pengeluaran zat pengelantang dalam

media alkali

2H2O2 2 H2O + O2 (5) pembentukan molekul oksigen yang

tidak aktif.

firtanahadi.blogspot.com

Hidrogen peroksida terdisosiasi dalam air seperti terlihat pada pers (2). Ion perhidroksil yang dihasilkan sangat tidak stabil sehingga mudah terurai membebaskan ion On yang aktif sebagai zat pengelantang (pers 3). Dengan penambahan alkali maka kesetimbangan pada persamaan (2) akan mengarah ke kanan, sehingga jumlah ion perhidroksil akan bertambah dan aktivtias pengelantang bertambah pula (pers 3). `

Diharapkan pelepasan atom On terjadi perlahanlahan dan merata supaya atomOn tersebut tidak terbuang ke udara sebelum bereaksi dengan serat atau menyerang serat dengan tidak terkendalikan. .

Cara yang digunakan untuk mengendalikan penguraian hidrogen peroksida adalah dengan penggunaan stabilisator.

Dalam waktu yang bersamaan terbentuk pula molekul oksigen yang tidak aktif seperti pada persamaan (5). Hal ini terjadi apabila dalam suasana asam serta adanya katalisator (Fe, Cu, Mn).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penguraian hidrogen peroksida yaitu :

1. Pengaruh suhu

Menurut Peters kestabilan larutan hidrogen peroksida dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah larutan hidrogen peroksida lebih stabil. Kestabilan larutan hidrogen peroksida 35% pada shu 200 C dan 400 C terlihat pada tabel 6. Proses pengelantangan dengan hidrogen peroksida biasanya dilakukan pada suhu 80 - 850 C di bawah suhu tersebut penguraian sangat lambat, tetapi dengan bertambahnya suhu penguraian akan bertambah cepat. Waktu pengerjaan yang lebih lama menimbulkan penguraian yang lebih banyak.

Tabel 6

Pengaruh Suhu pada penguraian Hidrogen Perooksida

Suhu ( OC)

% Hidrogen Peroksida

Mula-mula

Setelah 1 jam

Setelah 2 jam

20

40

60

80

0.69

0.69

0.69

0.69

0.69

0.65

0.53

0.39

0.69

0.625

0.39

0.13

Keterangan : Pengerjaan dilakukan pada pH 10,2 (dangan amonia ) tanpa penggunaan stabilisator).

2. Pangaruh Alkali

Hidrogen peroksida tidak aktif mengelantang searat salulosa dalam suasana asam atau netral, oleh karena itu untuk mengatur pH perlu penambahan alkali, Alkali yang biasa digunakan yaitu natrium hidroksida. Natrium hidroksida tersebut akan menetralkan asam (H2SO4) yang digunakan sebagai stabilisator dalam panyimpanan reaksi yang tarjadi adalah sabagai berikut :

H2SO4 + NaOH Na2SO4 + H2O

Alkali dalam larutan pengelantang sangat diperlukan agar térjadi pembebasan ion hidroksil dari hidrogen peroksida, akan tetapi kelebihan alkali dapat menyebabkan ketidakstabilan hidrogen peroksida disertai dengan pembentukan atom O yang terlalu cepat sehingga dapat merusak serat selulosa Pengaruh pH ini juga sangat berpangaruh pada kenaikan derajat putih yang merupakan tujuan dan pengelantangan. Faktor lain yang dipangaruhi adalah penurunan kekuatan tarik dan kain. Oleh karena itu pH larutan perlu dipilih agar diperoleh darajat putih yang tinggi tanpa penurunan kekuatan tarik yang berarti.

TABEL 7

Pengaruh Natrium Hidroksida terhadap Penguraian

NaOH (g/l)

pH

% Penguraian H2O2

1

2

3

4

5

10.4

11.1

11.8

12.2

12.0

7.0

12.5

19.0

25.0

59.0

3. Pangaruh Katalisator

Logam-logam tertentu seperti besi, tembaga, mangan, nikel dan khrom dapat bérfungsi sebagai katalisator yang dapat mempercepat reaksi penguraian hidrogen peroksida ke arah pembaetukan molekul yang tidak aktif. Pada suhu mendidih adanya logam-logam tersebut akan mempercepat kehilangan kekuatan hidrogen peroksida.

4. Pengaruh stabilisator

Pengelantangan dengan hidrogen peroksida memerlukan alkali untuk membantu pembentukan ion perhidroksil yang aktif mengelantang, akan tetapi dilain pihak ternyata semakin tinggi aikalinitas larutan pengelantangan maka reaksi penguraiannya akan berjalan cepat terutama dalam suhu yang tinggi sehingga kemungkinan terjadi kerusakan serat karena oksiselulosa lebih besar.

Penambahan stabilisator dalam larutan pengelantangan dapat memperlambat penguraian hidrogen peroksida sehingga dapat menahan atom O yang terbentuk secara berlebihan. Stabilisator yang dapat digunakan pada pengelantangan kapas yaitu natrium silikat, magnesium oksida, magnesium hidroksida, magnesium silikat, natrium metafosfat dan natrium trifosfat.

Contoh : Resep-resep Pengelantangan dengan H202

Resep : 1

Pengelantangan Terbuka :

H2O2 35% 4-10 ml/l

NaOH 1- 2 g/l

Stabiiisaior 2- 3 ml/l

Pembasah 1- 2 g/l

Suhu/waktu 80 - 900 C/2-4 jam

Resep 2.

Pengelantangan pada Boiler.

H2O2 35% 3 - 6

Prestogen P 1 - 1,5 g/l

NaOH 1 - 2 g/l

Leophen U 0.5 - 1 g/l

Suhu 85 - 950C

Waktu 3 jam

Resep 3.

Pengelantangan pada jigger.

H2O2 35% 4 -10 ml/1

Prestogen P 1 - 4 g/1

NaOH 1 - 1,5 g/1

Perbandimgan larutan 3 : 1 - 7 : 1

Suhu 80 – 90oC

Waktu 1 - 3 jam

Resep 4

Pengelantangan pada Unit mesin kelantamg

H2O2 35% 2 - 5 mm

Prestogen PC 0.5 - 1 g/l

NaOH 0.5 - 1 g/1

Perbandingan larutan 10 - 1

Suhu 90 – 95oC

Waktu 1 - 2 jam

Bahan dimasukkan dalam larutan kelantang atau dapat juga dibenam peras sesuai dengan resep, kemudian bahan dicuci dengan menggunakan air panas, dan dicuci air dingin. Hidrogen peroksida banyak digunakan dalam proses pengelantangan karena memiliki beberapa keuntungan antara lain :

- Daya oksidasi hidrogen peroksida yang lebih kecil dibandingkan dengan zat pengelantang kain, oleh karena itu kemungkinan kerusakan serat lebih kecil

- Tidak memerlukan proses anti khlor.

- Hasil derajat putih yang dihasilkan stabil, tidak mudah berubah menjadi kuning.

- Stabilitas dalam penyimpanan yang tinggi.

- Berbentuk larutan yang tidak berbau.

Tabel 8




Sifat-sifat dan Penggunaan Zat Pemutih

H2O2, NaOCl dan NaClO2

Minggu, 27 Maret 2011

Tugas Serat Sutera Sutra



SERAT SUTERA

Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidopter. Serat sutera yang berbentuk filamen dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu membentuk kepompong. Spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutera adalah Bombyx Mori Pemeliharaan ulat sutera telah dimulai kira-kira sejak 2600 tahun sebelum Masehi di negeri China. Cara memproduksi serat sutera merupakan monopoli Cina selema berabad-abad, tetapi sejak permulaan tahun Masehi pemeliharaan ulat sutera mulai menyebar ke Jepang, kemudian melalui Asie Tengah dan Timur Tengah sampai ke Eropa pada abad ke VIII. Saat ini negara utama penghasil sutera adalah Jepang, China, Itali dan Perancis.

Proses produksi sutera dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pembibitan, yang berhubungan dengan produksi kepompong dan penggulungan sutera yang berhubungan dengan penguraian kepompomg menjadi benang.

PEMBIBITAN

Setelah pembuahan, kupu-kupu betina dipindahkan kedelam sebuah cincin logam yang terletak diatas sehelai karton sebegai tempat bertelur, kemudian karton ditendai sesuai dengan spesifikasinya. Telur-telur dari jenis yang sama. dilepaskan dari karton dan dimasukan kedalam air hangat, telur yang subur akan tenggelam sedengkan yang tidak subur akan terapung dan dibang. Telur yang subur dikeringkan dan disimpan pada suhu rendah (5°C). Dengan cara tersebut telur dapat disimpanlama sampai saat penetasan yang diinginkan. Sebelum ditetaskan, telur dicelupkan kedalam larutanasam chlorida encer. Penetasan dilakukan pada suhur 27OC dengan masa tetas kira-kira 10 hari. Pada penetasan, 28 gram telur akan menghasilkan 40.000- 60.000 ulat. Ulat yang baru menetas berwarna hitam dan berbulu dengan panjang 3 mm dan berat 0,2 - 0,5 mg. Ulat-ulat tersebut dengan segera memakan daun murbei dan akam tumbuh dengan sangat cepat.

Dalam perbumbuhannya, ulat sutera berganti kulit empat kali, dan pada waktu pergantian kulit, ulat sutera tidak makan. Pertumbuhan ulat berlangsung selama 20-30 hari, kemudian mulai membentuk kepompong yang berlangsung selama 2-5 hari. Selama pertumbuhan, berat ulat sutera naik sampai 10.000 kali, mencapai 2 -5 gram dengan panjang 5 - 9 cm.

Setelah ulat sutera mencapai penbumbuhan maksimum, ulat berhenti makan, beratnya berkurang, warnanya berubah dari putih kehijau-hijauan menjadi putih agak cream dan mulai mencari tempat untuk membentuk kepompong.

Dalam pembentukan kepompong, dua helai filamén halus yang dihasilkan oleh kedua kelenjar sutera, dilekatkan oleh serisin yang melapisi masing-masing filamen, disemprotkan melalui spineret sebagai filamen gemda. Filamen ganda tersebut mempunyai kehalusan 1,75 – 4 denier, disusun tanpa terputus, membentuk deretan lengkungan berbentuk angka 8 menjadi satu kepompong dengan panjang filamen sampai 3500 m.

Dari 28 gram telur dihasilkan kira-kira 5,8 - 6,3 kg kepompong, yang menghasilkan kira-kira 5,5 kg serat sutera. Kadang-kadang dua ekor ulat sutera. yang letaknya berdekatan membentuk kepompong ganda, yaitu dua kepompong yang melekat menjadi satu.

Kelenjar sutera pada ulat sutera terdiri dari posterior, reservoir, dan anterior seperti terlihat pada gambar 25

Ulat sutera mengeluarkan benang sutera dan bekerja dari dalam, menambah lapisan demi lapisan. sehingga membentuk lapisan pelindung yaitu kepompong. Pembentukan kepompong berlangsung selama 2 hari dan kemudian ulatnya beubah menjadi pupa didalam kepompong. Dalam waktu kira-kira 1 minggu, pupa tersebut akan berubah menjadi kupu-kupu dan keluar dari kepompong dengan cara mengeluarkan suatu larutan bersifat basa, yang akan melunakkan kepompong sehingga kupu-kupu dapat keluar. Kupu-kupu betina lebih besar dari kupu-kupu jantan, keduanya tidak dapat makan atau terbang dan dapat hidup selama. 1-4 hari untuk bertelur. Kupu-kupu betina dapat bertelur sampai sebanyak 500 butir.

Umumnya kepompong dikumpulkan segera setelah terbentuk, dan 5% yang terbaik dipisahkan untuk tujuan pembiakan.

Untuk produksi serat, pupa didalam kepompong harus dimatikan lebih dahulu dengan cara dijemur dibawah sinar matahari yang terik selama bebarapa jam, atau dipanasi dengan udara atau uap air panas selama kira- kira 1/2 jam.

PENGGULUNGAN SUTERA

Sebelum penggulungan, kepompong-kepompong dipilih, yang baik dipisahkan dari yang jelek, kepompong-kepompong yang baik dikelompokan menurut jenis, ukuran dam warnanya. kepompong-kepompong yang baik dimasak dalam air panas untuk melunakan serisin. Kemudian disikat untuk mencari ujung filamen. Biasanya 8-20 helai filamen dirangkap menjadi satu benang dan diberi gintiran sedikit. Dikenal cara penggulungan, yaitu caara Chambon atau cara Perancis dan cara Travelle atau cara Italia

Pada. cara Perancis, sekelompok filamen dibelitkan pada kelompok filamen yang lain sehingga terbentuk gintiran pada masing-masing kelompok filamen (gambar 26b).

Pada cara Italia sekelempok filamen digintir dengan cara melilitkannya pada seutas tali (gambar 26a).

Dari filamen sebuah kepompong yang rata - rata panjangnya 3200 m hanya kira-kira 1000 m pertama yang dapat digulung, sebagian hilang pada waktu mencari ujung filamen, sedangkam sisanya terlalu halus.

Setelah penggulungan dari kepompong, benang sutera digulung kembali dalam bentuk untaian dengan keliling 125 cm dan 30 gulung dipack menjadi satu dengan berat 2,04 kg. Satu bal benang terdiri dari 30 pack.

Penggulungan sutra dari kepompong ganda sukar dilakukan, dan akan menghasilkan benang yang sangat tidak rata yang disebut sutera Duplon.

Grade benang sutera terutama didasarkan pada kehalusan, kerataan, kebersihan dan kekuatan.

SUTERA LIAR

Disampiug Bombyx mori hanya sadikit varietas kupu-kupu yang dapat digunakan untuk produksi sutera. Sutera tersebut secara. umum biasanya disebutsutera liar, karena serangga yang menghasilkanya hidup liar dan tidak dapat dipelihara.

SUTERA TUSAH

Sutera liar yang terpenting adalah sutera yang dihasilkan oleh ulat sutera Tusah, yang terdapat di daerah China. Ulatnya lebih bésar dari jenis Bombyx mori dan memakan daun pohon oak. Dalam pembuatan kepompong ulat sutera Tusah meninggalkan sebuah lubang yang akhirnya ditutup dangan perekat. Kupu-kupu yang telah dewasa akan ke luar dari kepompong melalui lubang tersebut, sehingga tidak merusak filamennya.

Sutera Tusah lebih kasar dari sutera Bombyx mori dan berwarna. kecoklat-coklatan karena adanya tanin pada daun oak yang dimakannya. Supaya filamen dapat digulung dari kepompong, serisin harus dihilangkan sama sekali dengan caramamasak didalam larutan natrium-karbonat.

Termasuk dalam keluarga yang sama. déngan ulat sutera Tusah adalah ulat sutera yang terdapat: di India yang menghasilkan sutera "eri". Ulat sutera ini memakan daun pohon jarak.

Sutera Anaphe

Ulat sutera Anaphe terdapat di Afrika, terutama Afrika Barat. Ulat sutera ini hidup mengelempok dan membuat suatu sarang dimana masing-masing ulat membentuk sebuah kepompong sendiri-sendiri.

Secara komersil, penggulungan sutera dari kempompong Anaphe tidak menguntungkan, karena strukturnya kompleks dan mengamdung banyak kotoran.

SUTERA PINTAL (SPUN SILK)

Limbah sutera yang tidak dapat digulung menjadi benang dapat dibuat menjadi sutera pintal. Limbah sutera dapat berupa :

1. Kepompong rusak atau yang tidak dapat digulung, misalnya: kepompong berlubang

karena kupu-kupunya keluar.

2. Kepompong yang menempel pada ranting.

3. Lapisan luar kepompong yang terbuang pada waktu mencari ujung filamen.

4. Lapisan dalam kepompong yang masih tertinggal setelah penggulungan.

5. Limbah yang timbul waktu penggulungan kembali benang sutera.

6. Limbah yang timbul waktu perangkapan dan penggintiran.

Limbah sutera tersebut mula-mula dihilangkan serisinnya, kemudian dikerjakan dalam mesin "Carding" untuk membuka serat, membersihkan kotoran dan serat-serat pendek, akhirnya dipintal memjadi benang dengan carayang pada dasarnyasama dengan cara pemintalan kapas.

SERAT SUTERA

Bentuk dan komposisi serat

Komposisi sutera mentah adalah sebagai berikut :

Fibroin (serat) .............…76 %

Serisin (perekat) ............. 22 %

Lilin ................................ 1,5%

Garam-garam mineral .....0,5%

Fibroin dan serisin kedua-duanya adalah protein yang tidak mengandung belerang. Susunan kimianya berbeda dan sifat-sifat fisikanyapun berbeda pula.

Serisin

Serisin adalah protein albumin yang tidak larut dalam air dingin, tetapi menjadi lunak didalam air panas dan larut didalam larutan alkali lemah atau sabun. Serisin menyebabkan serat sutera mentah pegangannya. kaku dan kasar, dan merupakan pelindung serat selama pengerjaan mekanik. Supaya kain sutera menjadi lembut, berkilau dan dapat dicelup, serisinnya harus dihilangkan, biasanya dilakukan dengan pemasakan didalam larutan sabun. Dalam pamasakan ini lilin dan garam-garam mineral ikut dihilangkan.

Fibroin

Fibroin adalah protein yang tidalk larut didalam alkali lemah dan sabun. Protein terdapat didalam zat-zat hidup dan mungkin merupakan bagian yang terpentiug. Protein merupakan molekul rantai yang dibentuk oleh gabumgan asam-asam amino membentuk rantai polipeptida. Hidrolisa polipeptida akan menghasilkan satuan-satuan asam amino. Asam amino adalah suatu senyawa yang mempunyai gugus-gugus asam maupun basa yang terikat pada atom karbon yang sama dan mempunyai rumus NH2CHRCOOH. ·

Perbedaan antara bermacam-macam protein ditimbulkan oleh variasi gugus samping R yang terikat pada rantai utamanya.

Telah dikenal lebih dari 20 asam amino dengan gugus samping yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan banyak sekali variasi susunan polipeptida.

Fibroin terutama tersusun oleh asam-asam amino sebagai berikut :

Glisin dengan gugus samping-H ........... 43,8%

Alanin dengan gugus samping-CH3 ....... 26,4%

Serin dengan gugus samping-CH2OH .......12,6%

Tirosin dengan gugus samping-CH2C6H4OH ..... 10,6%

Sisanya. terdiri dari asam-asam amino yang lain.

Filamen sutera mentah terdiri dari dua serat fibroin yang taerbungkus didalam serisin. Lebar filamen tidak rata dan menunjukan banyak ketidakrataan permukaannya seperti garis-garis dan lipatan-lipatan. Setiap filamen sutera mentah mempunyai penampang lintamg hampir lonjong dan dua serat berbentuk segitiga terletak didalamnya dengan salah satu sisi dari masing-masing serat terletak bardekatan.

Sifat-sifat serat

Sifat-sifat fisika

Dalam keadaan kering kekuatan serat sutera 4 - 4,5 gram per denier dengan mulur 20 - 25 persen dan dalam keadaan basah kekuatannya 3,5 - 4,0 gram per denier dengan mulur 25 - 30 persen. Serat sutera dapat kembali kepanjang semula setelah mulur 4 persen, tetapi kalau mulurnya lebih dari 4 persen pemulihamnya lambat dan tidak kembali ke panjang semula.

Moisture regain sutera meitah 11 persen, tetapi setelah dihilangkan serisinnya menjadi 10 persen. Sifat khusus dari sutera adalah bunyi gemerisik (scroop) yang timbul apabila serat saling bergesekan. Sifat ini bukan sifat pembawsaan sutera, tetapi merupakan hasil pengerjaan dengan larutan asam encer, yang mekanismenya belum diketahui. Berat jenis sutera mentah 1,33 dan sutera yang telah dihilangkan serisinnya 1,25.

Untuk mengimbangi kehilangan 'berat serisin, sutera."diberati" dengan cara merendamnya didalam larutan ggaram-garam timah dalam asam. Pemberatan juga mengembalikan pegangan dan sifat menggantung kain sutera. Tetapi dengan adanya ion-ion logam akan mengurangi kekuatan serat dan mempercepat kerusakan serat karena sinar matahari.

Sifat-sifat kimia

Seperti protein-protein lain sutera bersifat amfoter dan menyerap asam dan basa dari larutan encer.

Sutera mempunyai titik iso elektrik 3,6. Sutera tidak mudah diserang oleh larutan asam encer hangat, tetapi larut danrusak didalam asam kuat. Dibanding dengan wol, sutera kurang tahan asam tetapi lebih tahan alkali meskipun dalam konsentrasi rendeh, pada suhu tinggi akan terjadi kemunduran kekuatan. Suterataham terhadap semua pelarut organik, tetapi larut didalam kuproamoniumhidroksida dan kupri etilena diamina.

Sutera kurang tahan terhadap zat-zat oksidator dan sinar matahari dibandingkan dengan serat selulosa atau serat buatan, tetapi lebih tahan terhadap serangan secara biologi dibanding dengan serat-serat alam yang lain.

Penggunaan

Oleh karena sifat-sifat serat sutera sangat baik misalnya kekuatanya tinggi, daya serapnya tinggi, pegangannya lembut, tahan kusut, sifat mengganntung baik, dan kenampakannya mewah, maka bidang penggunaan sutera sangat luas, baik tekstil untuk pakaian maupun tekstil untuk rumah tangga. Tetapi karena harganya mahal, penggunaannya terbatas, terutama untuk bahan pakaian dengan mutu yang sangat tinggi misalnya pakaian wanita, kaos kaki wanita, dasi, sapu tangan, rompi anti peluru dan lain-lain.